Konsultasi Keluarga Muslim

berbagi suka...duka...luka...kecewa

Monday, April 17, 2006

Percekcokan Dalam Rumah Tangga Bernilai Ibadah ? Benarkah ?

Oleh Rina M. Taufik

"Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan mengkayakan mereka dengan karuniaaNya. Dan Allah Maha Luas (pemberianNya) dan Maha Mengetahui." (QS. An Nuur (24) : 32).

Salah satu anjuran Rasulullah untuk Menikah :
Rasulullah SAW bersabda: "Nikah itu sunnahku, barangsiapa yang tidak suka, bukan golonganku !"(HR. Ibnu Majah, dari Aisyah r.a.).

Pernikahan menyatukan dua energi besar untuk sama-sama berjuang menggapai ridlo Allah SWT. Penyatuan energi sehingga membentuk suatu sinergi tentunya membutuhkan waktu untuk saling menyesuaikan diri. Dalam proses penyesuaian itulah akan banyak ditemui ketidakcocokan, pergesekan yang menimbulkan konflik dari masing –masing pasangan. Betapa tidak masing-masing memiliki latar belakang budaya, kebiasaan, karakter yang berbeda untuk diselaraskan sesuai dengan keinginan Allah SWT dalam sebuah pernikahan.

Agar konflik dan masalah dalam berrumah tangga dapat diminimalisir maka setiap pasangan harus memiliki pengetahuan yang cukup sebelum mereka memasuki jenjang pernikahan, sehingga dalam mengarungi bahtera rumah tangga mereka sudah siap menghadapi goncangan, pergesakan dan hambatan yang ada.


Pernikahan

Pernikahan adalah konsep sakral dari sebuah kontak (ijab Qobul) secara syah yang dilakukan oleh pasangan lelaki dan perempuan sesuai tata nilai hukum yang berlaku, baik hukum positif maupun hukum religius.

Ijab artinya mengemukakan atau menyatakan suatu perkataan. Qabul artinya menerima. Jadi Ijab qabul artinya seseorang menyatakan sesuatu kepada lawan bicaranya, kemudian lawan bicaranya menyatakan menerima. Ijab qabul adalah seorang wali atau wakil dari mempelai perempuan mengemukakan kepada calon suami anak perempuannya/ perempuan yang di bawah perwaliannya, untuk menikahkannya dengan lelaki yang mengambil perempuan tersebut sebagai isterinya. Lalu lelaki bersangkutan menyatakan menerima pernikahannya itu.

Diriwayatkan dalam sebuah hadits bahwa:Sahl bin Said berkata: "Seorang perempuan datang kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam untuk menyerahkan dirinya, dia berkata: "Saya serahkan diriku kepadamu." Lalu ia berdiri lama sekali (untuk menanti). Kemudian seorang laki-laki berdiri dan berkata: "Wahai Rasulullah kawinkanlah saya dengannya jika engkau tidak berhajat padanya." Lalu Rasulullah shallallahu alaih wa sallam bersabda: "Aku kawinkan engkau kepadanya dengan mahar yang ada padamu." (HR. Bukhari dan Muslim).

Secara umum tujuan suatu penikahan menurut Islam adalah untuk mencapai ridho Allah, secara khusus yakni :
1. Mengabdi ke hadapan Allah.
2. Malaksanakan sunnah Rasulullah.
3. Melanjutkan generasi muslim sebagai pengemban risalah Islam.
4. Membentuk suatu masyarakat islami.
5. Mendapatkan ketenangan jiwa.

"Dan orang-orang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka mereka ( adalah) menjadi penolong sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana". (QS At-Taubah: 71)

Percekcokan dalam Rumah Tangga

Dalam suatu interaksi dua manusia yang berlatar belakang beda baik secara kultur, karakter dan gaya hdup sudah dapat dipastikan tidak akan lepas dari suatu pergesekan nilai dan kebiasaan, sehingga menimbulkan suatu percekcokan.Hal ini sangat wajar dan manusiawi, jangankan pasangan seperti kita manusia biasa, rumah tangga Rasulullah pun tidak lepas dari percekcokan, yang membedakannya dengan kita Rasulullah memiliki akhlaq yang mulia dan dibimbing oleh Allah untuk menjadi contoh bagi ummatnya.

Banyak keluarga muslim yang hanya karena masalah kecil mengakhiri pernikahan, suatu ikatan yang telah Allah kokohkan. Masalah bisa saja hanya bermula dari salah persepsi karena komunikasi yang tidak lancar sehingga menimbulkan salah pengertian atau mungkin kebiasaan kecil suami yang tidak disukai isteri atau juga ketidaktepatan mengekspresikan emosi seperti kecewa, marah. Semuanya bisa saja terjadi hanya saja ada pasangan yang mampu mengatasi masalah kecil tersebut dengan baik ada juga yang tidak mampu menyelesaikannya sehingga masalah kecil tersebut menumpuk dan menjadi bom waktu yang akan menghancurkan bahtera rumah tangga yang sedang dibangun.

Faktor-faktor penyebab terjadinya percekcokan dalam rumah tangga adalah:

1. Kurang lancarnya komunikasi


Komunikasi menjadi bagian yang sangat penting dalam berrumah tangga, bagaimana mungkin masing-masing pasangan mengetahui keinginan dan harapan pasangannnya kalau tidak adanya komunikasi yang baik sehingga keinginan dan harapan tersampaikan dan tidak salah persepsi. Seorang suami atau isteri hendaknya menyampaikan pesan dengan lembut dan baik, tentunya dengan mempertimbangkan pula waktu dalam menyampaikan pesan tersebut.

Suami yang baru saja pulang kerja dengan badan yang lelah dan perut yang lapar tidak mungkin seorang isteri menyampaikan keluhannya sepanjang siang itu, tapi harus menunggu waktu yang tepat dimana suami dalam keadaan yang santai dan tenang

2. Kurangnya pengetahuan/ ilmu


Sebelum memasuki jenjang berrumah tangga calon suami atau isteri sebaiknya menggali dan menyempurnakan ilmu tentang pernikahan, dengan ilmu maka kita akan paham seperti apa rumah tangga yang dicontohkan Rasulullah dan bagaimana melajukan bahtera di tengah lautan kehidupan yang bergelombang.

3. Kurangnya pengendalian diri masing-masing pasangan

Sebelum menikah mungkin segalanya tampak indah di depan mata. Satu, dua, tiga bulan pertama semuanya bak di syurga dunia, tapi ketika usia pernikahan memasuki bulan keempat mulailah masalah bermunculan. Disini kita harus mampu mengendalikan diri kita. Kemampuan kita dalam mengendalikan diri diuji oleh Allah. Sikap yang tepat dalam menghadapi dan mengatasi masalah adalah dengan senantiasa berlindung dan memohon pertolongan Allah untuk tetap tenang, diberi kemudahan untuk berpikir jernih dan bertindak tepat.

Banyaklah belajar dari pengalaman orang-orang yang sudah berpengalaman dalam berrumah tangga, khususnya keluarga-keluarga mukmin, bagaimanakah mereka mengatasi konflik rumaha tangga, bagaimanakah mereka mengendalikan diri ketika menghadapi masalah.

4. Tidak adanya kesadaran sebagai hamba


Seorang hamba Allah sepanjang hidupnya selalu mengabdi, segala aktifitasnya harus selalu bernilai ibadah di hadapan Allah dalam QS. Adz Dzaariyaat : 55 dikatakan ” dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan untuk mengabdi (beribadah) kepadaKu”

Maka seorang hamba Allah akan meninggalkan semua sikap dan perilakunya yang tidak bernilai ibadah. Semua yang dilakukannya harus untuk dan atas nama Allah, dengan bertitik tolak pada ”Sukakah Allah dengan apa yang akan kulakukan?”

Benarkah Budaya Jawa ”Nrimo” Sesuai Syariat Islam?

Perempuan adalah mahluk yang sangat istimewa dengan kehalusan budi pekerti, kelembutan cinta, wajah nan anggun berwibawa, suara yang lirih, langkah yang gemulai dan sikap yang taat, patuh, hormat pada orang tua serta berbakti pada suami, merupakan gambaran perempuan di mata bangsa Jawa dan beberapa bagian di Indonesia. Tabu jika ada seorang perempuan yang lantang, memberontak terhadap suatu keputusan orang tua atau suaminya, melanggar adat katanya. Bahkan ketika seorang suami menyakitinya, menjadikannya isteri simpanan pun tabu baginya untuk menolak apa lagi melawan.

Nilai-nilai tersebut semakin menguat dengan datangnya Islam ke Pulau Jawa, walau salah kaprah dalam memahaminya budaya ’nrimo’ sudah menjadi bagian dari kehidupan beragama di Jawa. Suami adalah pimpinan rumah tangga sehingga apa yang dikatakannya mutlak harus ditaati ’pamali’ jika membantah atau menolak.

Sebenarnya perintah taat dalam Islam tidak demikian, selalu diikuti kata ”selama pimpinan (baik kepala rumah tangga, pemimpin masyarakat dan pimpinan negara) tersebut tunduk dan taat kepada Allah dan RasulNya.

Ketaatan kepada ulil amri merupakan ketaatan bersyarat yakni taat manakala ulil amri tersebut berpegang teguh kepada Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah, apalagi ketaatan terhadap seorang suami. Taat dan patuh kepada suami adalah semata-mata hanya karena Allah telah memerintahkannya, sehingga semua yang dilakukan suami atau isteri akan bernilai ibadah manakala ia melakukannya atas nama Allah SWT, mencintai suami atau isteri merupakan bentuk kecintaan terhadap Allah SWT.

Manakala seorang pimpinan berbuat menyimpang dari Al Qur’an dan sunnah Rasulullah maka ketaatan tersebut menjadi batal adanya. Dalam berrumah tangga jika suami berbuat salah maka isteri wajib mengingatkannya, mengajaknya kembali ke jalan yang benar, tetapi jika berbagai cara telah dilakukan untuk mengingatkan suami maka suami tersebut tidak wajib untuk ditaati, sehingga ’nrimo’ nya Jawa tidak berlaku. Dalam hal ini manakala suami menyimpang dari ketentuan Allah SWT maka isteri tampil bak seorang ’Srikandi’ di medan perang gigih berjuang melemahkan nafsu syetan yang ada dalam diri suami.

Seperti telah disebutkan di atas QS At Taubah : 71 "Dan orang-orang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka mereka ( adalah) menjadi penolong sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana". (QS At-Taubah: 71)

Suami isteri harus merupakan penolong menyuruh pada yang ma’ruf dan mencegah pada hal yang munkar, sehingga ketika percekcokan suami isteri karena salah satunya menyimpang dari ketentuan Allah, maka pasangannya mengingatkan dan meluruskannya, sehingga percekcokan tersebut akan bernilai ibadah. Percekcokan inilah yang dibenarkan oleh Allah SWT dan bahkan dianjurkan, seperti dalam hadits Bukhori Muslim
Jika melihat kemunkaran cegahlah dengan tanganmu, jika tidak mampu cegah dengan lisanmu dan jika tidak mampu cukuplah dengan hati maka itulah selemah-lemahnya iman”

Suami dan Isteri Sebagai Partner

Era globalisasi informasi telah mengubah pandangan tentang wanita dan isteri, posisi wanita bukan berada di bawah telunjuk pria atau kaum suami tetapi memiliki kedudukan yang sama bahkan lebih tinggi. Fenomena pandangan tentang wanita ’mampu mengerjakan semua pekerjaan seperti halnya pria’ telah menyeret wanita meniggalkan fitrahnya,banyak ditemukan keputusan dan pengelolaan rumah tangga mutlak di tangan isteri, sehingga suami kehilangan wibawa dan pengaruhnya dalam memimpin rumah tangga.

Islam dien yang menjunjung tinggi wanita, dalam Islam wanita adalah partner dalam menjalani biduk rumah tangga. Wanita dan pria sama-sama sebagai subyek bukan obyek. Namun tetap pria dengan berbagai kelebihan yang Allah berikan ia sebagai pemimpin dalam berrumah tangga. Isteri dalam hal ini sebagai partner, sebagai wakil di rumah tangga.

Jika fitrah yang Allah tetapkan ini dilanggar maka lihatlah kesudahan orang-orang yang tidak mentaati ketetapan Allah SWT, malapetaka dan kehancuran yang akan didapat., serta jauh dari rahmat dan kasih sayang Allah SWT.

Menjalankan peran sebagai subyek dalam rumah tangga, berarti isteri memiliki kewajiban untuk menolong, meluruskan suami ketika suami berbuat menyalahi aturan Allah SWT, sudah barang tentu sebaliknya jika isteri menyimpang dari jalan Allah SWT maka suami berkewajiban mendidik dan mengarahkannya ke jalan yang benar.

Jika dalam menjalankan perannya baik suami atau isteri tidak mau mendengarkan tausyiah kita maka percekcokan akan terjadi, namun percekcokan ini akan menjadi ibadah di hadapan Allah, sehingga tidak perlu khawatir selama kita benar sesuai dengan ketetapan Allah janganlah takut atau merasa bersalah pada saat kita harus adu mulut atau mungkin adu otot dengan pasangan kita.

Dari uraian di atas maka sebaiknya calon isteri atau suami sebelum memasuki jenjang pernikahan, sempurnakanlah ilmu dan pengetahuan tentang berrumah tangga sesuai tuntunan Rasulullah SAW .Melalui tahapan seperti di bawah ini :

1. Ta’aruf


Hai manusia sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang paling bertaqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah maha mengetahui lagi maha mengenal.” (QS.Al Hujurat : 13)

Ta’aruf tidak identik dengan pacaran, ta’aruf artinya saling mengenali diri masing- masing. Proses ta’aruf sebelum menikah hanya dibolehkan jika sesuai syariat yang telah Allah tetapkan, bukan liar dan tidak terkontrol. Ta’aruf yang dibenarkan memiliki rambu-rambu sebagai berikut :
- bertujuan mengenali pasangan untuk menuju jenjang pernikahan (bukan untuk eksploitasi hawa nafsu)
- tidak berduaan, harus ada muhrim dari pihak calon mempelai perempuan
- pembicaraan tidak mengarah pada hal-hal yang menimbulkan birahi
- saling menyesuaikan diri satu sama lain
Dalam ta’aruf ini hendaknya masing-masing pasangan saling bertanya mengenai :
- Apa yang menjadi tujuan dan hidup pasangannya?
- Apa saja yang disukai?
- Apa yang dibenci?
- Apa saja yang membuatnya kecewa?
- Apa saja yang membuatnya marah ?
- Apa cita-citanya?
- Apa tujuan menikah?
- Bagaimana cara mengatasi masalah selama ini?
- Dan lain sebagainya.
Sehingga jika masing-masing pasangan mengenai kebiasaan dan sifat calon istri atau suaminya, ia memiliki bahan untuk saling menyesuaikan diri.

2. Tafahum


Tafahum adalah saling memahami, setelah masing-masing pasangan saling mengenal maka tahapan selanjutnya adalah saling paham, mengerti dan menyesuaikan diri kebiasaan masing-masing, sehingga semua masalah dihadapi dengan tenang karena masing-masing mengetahui cara pandangnya.

3. Ta’awun


"Dan orang-orang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka mereka ( adalah) menjadi penolong sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana". (QS At-Taubah: 71)

Ta’awun berarti saling menolong, seperti ayat di atas bahwa suami/isteri adalah penolong bagi pasangannya, saling mengingatkan dalam kebenaran dan kebaikan dengan penuh kasih sayang.

4. Takaful


Takaful artinya penyeimbang, pasangan suami isteri harus menjadi penyeimbang dari kekurangan dan kelebihan masing-masing. Kekurangan yang dimiliki isteri hendaknya dilengkapi oleh kelebihan yang dimiliki suami begitupun sebaliknya, sehingga sama-sama berproses untuk saling melengkapi dan saling menyempurnakan untuk menjadi hamba allah yang berprestasi.

20 Comments:

  • At 9:33 PM, Blogger Ummu Iffah said…

    Assalamualaikum,
    Salam kenal Mbak Rina, saya link ya?

     
  • At 6:47 PM, Blogger Prandi said…

    saya randi, dalam hal saya tidak punya niat membuka aib keluarga ataupun suatu kejelekan sifat dan skap istri saya. yang saya mau di sini cari solusi and sharing. permasalahan saya :
    1. Sifat dan sikap istri saya, setiap saya ajak ke rumah orang tua saya. dia selalu menolak dan selalu bertengkar terlebih dahulu.
    2. untuk hal itu dia mencoba cari alasan dan kambing hitam.
    3. selama ini saya ikuti kemauan dia.
    4. dia pernah mengeluarkan kalimat lebiha baik pisah saja.sebagai lelaki saya ikutin mau dia. dia bilang itu emosi dia. oh yah saya baru 1 bulan berumah tangga.
    5. sebenarnya sebelum menikah saya sudah ragu dengan dia atau tidak yakin.
    6. pernikahan saya ini di saya laksanakan karena bhakti saya terhadap orang tua.
    7. sampai detik ini pun, tidak terbersit dalam hati dan niat saya, menzhalimi dia. ataupun menyakiti dan mengkhianatinya.

     
  • At 5:58 AM, Blogger LadyNAD said…

    Assalamu'alaikum,2 the point aja yaa.. Apakah kt tetap hrs menuruti suami kt yg egois spt lbh banyak menghabiskan waktu bersama temen2nya,sedangkan istri dirmh sendirian,disaat istri mencari hiburan krn merasa kesepian spt jalan2 ke mall sama temen perempuan,ikut arisan,atau main ke rmh keluarga dilarang,bg dia istri di rmh aja,bg saya itu amat sangat tdk adil,bgm hal tsbt dr segi agama?terima kasih sblmnya.

     
  • At 11:44 PM, Anonymous yuli said…

    Assalamu'alaikum,

    saya ingin share & minta saran sedikit.

    Saya memang belum menikah dengan pasangan saya (co). tapi kami sudah punya komitmen. Saat ini sedang dalam sedikit masalah. Pasangan saya menuduh saya berbohong & menuduh saya mempunyai kekasih lain. Padahal itu sama sekali tidak benar! Hanya karena saya tidak mengangkat telfon dari dia, dan dia langsung berfikir klo saya sedang bersama laki-laki lain. sudah beberapa kali masalah ini muncul, tapi pasangan saya tidak pernah mau mengalah & hanya menuruti nafsunya saja. Saya sudah coba jelaskan kalo semua yang dituduhkan kepada saya itu semuanya tidak benar.
    Mohon dibantu untuk solusinya. Terima kasih.

     
  • At 12:56 AM, Anonymous regina said…

    assalamualaikum,
    saya mempunyai masalah keluarga yg sangat pelik,dan saya membutuhkan solusinya. sudah 3 bulan ini ayah saya tidak memberi gaji kpda ibu saya,alasannya ibu slalu berbohong masalah keuangan dan terlalu boros,kejadian ini selalu diulangi oleh ibu saya,dan ayah merasa dikecewakan sehingga sudah lama tidak pulang dan tidak memberi gajinya pada ibu. tetapi ayah tetap menafkahi anak2nya. disaat yg bersamaan saya pun mempunyai konflik dgn ibu,sifat saya yg terbuka pada ayah,dan membela ayah membuat ibu selalu marah,sehingga saya harus tinggal terpisah dengan ibu. sampai akhirnya saya menduga klau ayah telah menikah lagi,suatu hal yg sama sekali tidak saya inginkan,saya tetap menginginkan keluarga saya utuh,adapun dibalik konflik nya saya dan ayah dengan ibu saya hanya bermaksud supaya ibu menyadari kesalahan2 nya,meminta maaf kepada ayah dan tidak mengulangi perbuatan buruknya. saya ingin keluarga saya bersatu kembali seperti dulu,tapi apakah mungkin,mengingat ayah sudah sangat kecewa dengan ibu dan telah beristri lagi....

     
  • At 9:58 PM, Anonymous rinda said…

    ass.wr.wb. mo minta saran nih,begini ceritanya, saya sdh menikah 4th,sy bersyukur Allah memberikan sy suami yg sangat mengerti kondisi klrg sy yg bs dikatakn "broken home"..tp sy punya 2 kk yg slalu ingin suami sy membantu klrg sy,kl misal suami sy tdk bisa atau terlambat dtng kehal-hal yg berhubungan dgn klrg sy mereka marah,,pdhal kami sudah punya kehidupan rumahtangga sendiri dan sdh tidak tinggal serumah lg dgn mrk..suatu ketika kami berdua bertengkar dgn mrk dan kesabaran suami saya sdh sampai puncaknya,sejak saat itu dia melarang saya utk berhubungan lg dgn mrk..sy menuaruti suami sy krn dlm rumahtangga suami adalah imam bagi saya apalag kami dlm posisi yg benar menurut kami,,sy ingin bertanya salahkah sy bersikap spt itu terhadap kk sy?krn sy lebih memilih utk menuruti suami,tq atas sarannya wass.

     
  • At 8:33 AM, Anonymous Anonymous said…

    Saya berumah tangga sdh 14 thn, ternyata saya sangat pandai bersandiwara..saya hampir2 tak tahan lagi kalau tdk ingat anak2..ya اَللّهُ ..berikanlah jalan keluarnya..

     
  • At 2:07 AM, Anonymous Anonymous said…

    askum....
    boleh minta masukan?....cara menghadapi suami yg egois tdk mau dsalahkan dan dikalahkan,bila dia salah maka dia mencari ato mengorek2 keslahan saya(alhdl selama pernikahan ini sy msh dan insya allah sll dijalan alllah swt),sy tidak bil klo saya tdk punya salah,tp dia sll menyamai saya dg dirinya yg sll berbohong dll.Saya capek dan lelah krn kami ribut hanya karena kecurigaan dia terhadap saya yg tidak terbukti.sekian terima kasih....semoga allah selalu meridhoi pernikahan kami.

     
  • At 8:59 AM, Blogger Ciska said…

    assalamualaikum w.w
    saya mau tanya saya sudah menikah hampir 15 tahun lamanya ..selama ini kami setiap kali bertengkar tidak pernah lama namun saat ini keadaan sudah berubah...banyak hal yg terjadi membuat jurang diantara saya dan suami semakin lama semakin dalam...kali ini sudah lebih dari 1 bln hubungan kami tidak baik dan saya mulai merasa saya setiap kali berbicara denga suami tidak merasakan kehadiran rasa sayang diantara kami lagi...hobby suami yg keluar malam pulang pagi dan saya sudah beberapa kali mendapati dia ternyata dia suka bermain judi dan tidak mau sholat...membuat saya berfikir semua musibah yg kami alami dikarenakan kebiasaaannya membuat saya mulai merasa hambar...saat ini saya merasa khawatir dengan perasaan saya yang tidak ada rasa rindu lagi terhadap suami sebaiknya apa yg harus saya lakukan

     
  • At 9:09 AM, Anonymous Anonymous said…

    Saya mempunyai suami yang sama sekali tidak bisa diandalkan,apa2 harus nsaya jalani sendiri,saya tahu kondisi perekonomian suami sedang sulit,tapi sewaktu saya minta dipinjamkan uang untuk keperluan yang sangat mendesak tetapi suami malah menghina saya ndengan kata2 yang menyakitkan,sementara ini kami tidak tinggal serumah karna suami kerja di semarang dan saya di jakarta,suami selalu mengatakan hal2 yang menyakiti hati saya,pernah karena saya menolak dengan halus keinginannya berhubungan badan karna saya tidak tahan dingin dan waktu tinggal 10 menit lagi saya dijemput taksi untuk pulang ke jakarta,tapi dia tidak mau mengerti dan malah menghina saya dan orang tua saya,,saat ini saya sedang ada masalah dengan suami karena saya mengirimkan sms2 yang menurut dia saya merendahkan dia,dan sms tersebut diteruskan ke ibunya sehingga ibunya marah dan menangis karna tidak terima anaknya direndahkan seperti itu,sms saya berisi tentang kekecewaan saya kepada suami karena dia tidak bisa diandalkan dan penyebabnya karna saya sudah minta tolong dia untuk sesuatu hal tapi selalu ditunda2 untuk waktu yang sangat lama, saya sedih,kecewa,bahkan untuk cerai pun saat ini saya sudah siap,saya tidak mau selalu dianggap sebagai pihak yang salah atau pihak yg kurangajar kepada suami,karena semuanya juga suami saya dulu yang memulai,demi Allah saya merasa apakah orang miskin itu harus selalu direndahkan

     
  • At 9:51 PM, Anonymous Anonymous said…

    Assalamualaikum..
    Saya baru menjadi kepala rumah tangga sekitar 15bulan sudah dikaruniai putri yg lucu berumur 5bln, keluarga kami cukup bahagia walaupun jg tidak jarang ada percekcokan antara saya dan istri karna perbedaan pendapat,sebagai contoh mengenai mengurus anak, istri saya kuliah fullday sedangkan saya bekerja wiraswasta, istri saya tidak bisa mempercayai saya mengurus bayi oleh karna itu istri saya minta anak dititipkan mertua saya yg berada di luar kota untuk sementara waktu, bukanya saya melarang tp kan jd jauh dan akhirnya gak dapet asupan asi anak saya, tp kalo saya melarang dan supaya dititipkan ortu saya disini dr pagi sampai sore istri saya tersinggung katanya saya egois, ortunya jg berhak mengasuh, selalu aja salah paham seperti ini sampai2 saya gaktau mesti gmana lg ngadepin situasi begini, maklum istri saya dan keluarganya jg bisa dibilang kurang untuk pengetahuan agama jd saya jg agak susah klo memberi pengertian dengan dalil2 agama,
    Mohon saran dan nasihatnya
    Terima kasih
    Wasalam

     
  • At 7:17 AM, Blogger YULIPURNOMO said…

    Asalamualaikum.
    sy mempunyai problema rumah tangga istri saya suka selingkuh.sy sdh menikah selama 13 tahun sudah perbah tertangkap saya maafkan 2 x tertangkap dan dia mengakui selama ini sering selingkuh.masih saya maafkan dan sy terus berusaha untuk menerima dan sabar.bahkan ke paranormal untuk mengobatinya.tapi ditahun 2011 ada tanda tanda dia mau berselingkuh lg.sy sdh ancam sempat ketahuan lagi maka kita cerai.saya menikah mempunyai 4 org anak.yg membuat sy berat pisah karena anak.apa yg harus saya lakukan.susah sekali diajak komunikasi istri saya marah marah aja.sy tdk bs berbuat apa apa didepan dia.istri saya royal bahkan pernah berhutang sampai 50 juta sementara hanya seorang TNI berpangkat kopral.saya lunasi juga utang istri saya tp saya belum tau kalau selama ini istri saya suka selingkuh.mohon jalan keluarnya

     
  • At 6:06 AM, Anonymous Anonymous said…

    bagaimana dengan suami yang tidak melaksanakan kewajibannya denganmemberikan hak sang istri (seperti nafkah lahir dan batin) ??? apakah sang istri bisa menuntut haknya smentara selama ini istri hanya dituntut untuk selalu menurut???

     
  • At 6:32 PM, Anonymous Anonymous said…

    Ass....mo share, sy lisa sdh mnkh sejak 2006 tp sjk itu sy merasa kl ada yg tdk beres dng prnikahan itu, sy juga bngng sepertinya suami sy itu bukan suami yg mau membahagiakan istrinya karn dia tidak mau memberikan nafkah bathin selalu dia beralasan cape, takt besak kesiangan atau besak aja yaaah??? dan 2 thn terakhr ni dia dikeluarkan dr tmpt dia kerjanya jd setelah 2 thn belakang ini saya tdk prnah di berikan nafkah lahir dan bathin, stlh sy bicarakan smua ini dng suami dan tak ada respon yg berarti sy mengambil keputusan untuk pisah rumah untk kembali ortu msng2, tp smpai saat ini sy bngung sekali krn dia blm menceraikan saya klu saya prhatikan dr sms dan sikapnya dia tdk mau melepas sy.....jujur saya sdh tdk kuat lagi untuk menahan rasa sakit ini? apa yg hrs sy lakukan skrng yaaah???

     
  • At 9:23 PM, Anonymous subkhan said…

    assalamu'alikum wrwb...
    saya subkhan...
    sebelumnya saya mw flash back mundur sebentar crita saya...
    dulu saat saya mau menikah dengan istri saya..saya ditentang dengan orang tua dan keluarga dan sanak famili saya...karena pada saat itu saya dijodohkan oleh kedua orang tua saya,..
    namun saya membantah dengan pilihan orang tua saya...dan saya tetap dengan pilihan saya..dan akhirnya saya menikah dengan istri saya...
    alhamdulillah rumah tangga saya sudah 1 tahun lebih dikarunia seorang anak laki2..alhamdulillah saya ucapkan kpda ALLOH..saya bersyukur kpd ALLOH..karunia dan rezeki itu cepat datangnya...
    dan kebahagian itu ngga lama...saat sekarng ini saya dapat cobaan yaitu istri saya membantah semua kata2 saya...
    terlebih pada saat tadi...kami ribut mengenai masalah anak...sebenarnya masalahnya sepele...tapi saya bingung harus bagaimana...
    1. pernah saat mw keundangan karena anak kami masih berumur 4 bulan saya melarang istri saya untuk membawanya keundangan...lantas istri saya tidak setuju dengan ucapan saya...kemudian kami ribut...lantas istri saya mengadu kemertua saya...kemudian saya datangi mertua saya berharap jgn ikut campur dengan masalha rumah tangga saya..eh malahan saya yang dipojokkan...bukannya memberi masukan malahan menyudutkan saya..
    kemudian...
    2.anak saya terlalu sering dipasang popok di celananya...saya sudah sering melarangnya...malahan sekarng istri saya yang memaki2..saya bahkan dia mengatakn kita pisah aj...lantas karena dia berbuat bgitu sama MARAH berat sama istri saya...sampai saya tampar dia...karena sudah berkata bgitu...
    trus terang saya tidak ingin menampar bahkan menyakiti istri saya...tapi sebagai laki2...dmana harga diri saya...klo seorang perempuan sudah berkata seperti itu saya pun khilaf...ASTAGHFIRULLAH...YA ALLOH kuatkan hambamu ini...
    lantas mertua datang...dan mereka mengadukan perbuatan saya pada pihak yang berwajib...pada intinya saya siap masuk penjara klo itu demi mempertahankan martabat saya sebagai seorang laki2...yang mau saya tanyakan bagaimna sikap saya sama istri dan mertua saya atas sikap mereka...
    dan solusinya gmna...karena terus terang saya sudah malu sama kedua orang tua saya...dan family saya...apalgi sama anak saya yang sekarng lagi lucu2nya...saya kpikiran terus sama anak saya fahim...
    YA ALLOH jgn sampai anak saya merasakan kesedihan akibat sikap orang tuanya yg sedang tidak akur ini YA ALLOH...
    tapi saya sedih dengan sikap istri dan mertua saya...saya sudah malu..dan tidak tau lagi harus bagaimana...

     
  • At 1:47 AM, Blogger Unknown said…

    subhanallah

     
  • At 7:57 AM, Blogger vitree selza said…

    1.suami galak/ringan tangan
    2.suka membesar2kan masalah
    3.sering mengusir bahkan mengucap kata pisah
    4.cemburu buta
    5.tempra mental
    pertanyaan:
    haruskah bertahan??sedangkan saya tidak pernah terima semua yg telah dia lakukan thd saya??

     
  • At 12:42 AM, Anonymous DISTRO JILBAB MEIDIANI said…

    Nah supaya hubungan rumah tangga harmonis, jangan lupa peran penting daleman muslimah yang nyaman.

    Teman2 muslimah dapat mengenakan Daleman Muslimah Aimee Inners yang enak dipakainya.

    Salam!

     
  • At 2:37 AM, Anonymous Anonymous said…

    sebenarnya suami saya adl type penyayang, tapi kurang pengertian dan susah untuk memahami kondisi saya, ketika saya sdg byk mslh dn urusan pekerjaan dan pusing dg keadaan sy terpaksa menolak ajakan suami, alhasil suami marah besar dan melontarkan kata-kata yang tak enak di dengar bahkan sampai2 menghukum dg ini dan itu yg membuat sy tmbh pusing, yang ingin saya tanyakan bagaimana hukumnya ketika istri sedang dalam kondisi benar2 letih dan pusing menolak ajakan suami... tolong dijawab ya

     
  • At 10:22 AM, Blogger hajizah saidah said…

    Suami saya taunya hanya dikantor. Dia merasa tugasnya hanya itu. Klu saya ada pekerjaan, dia tidak bisa menggantikan peran ibu kepada anak2 dirumah. Pusing deh.....urus anak istri, rumah istri, masak istri, dampingi belajar istri...kapan donk istirahatnya istri. Ada usaha suami saya dukung, tp untuk urusan jd fatrner kerja tidak mau. Bahkan hari liburpun istri tidak libur. Klo suami bs libur....setiap jalani usaha baru, pasti berkelahi. Ada yg punya solusi???

     

Post a Comment

Links to this post:

Create a Link

<< Home